Rabu, 23 Mei 2012

The Wedding Day

Sabtu lalu adalah hari pernikahan putra mahkota pemilik perusahaan ini.


Seperti perkiraan semua orang, pesta pernikahan itu dilangsungkan dengan sangat meriah.  Benar-benar pernikahan impian semua perempuan single di negeri ini.  Pernikahan yang menghabiskan budget hampir dua milyar tersebut, sekiranya akan dihadiri oleh lebih dari 1300 pasang undangan dan termasuk di dalamnya para bupati dan kepala daerah yang menjadi rekan bisnis perusahaan ini.

Karena banyaknya undangan yang disebarkan, sang pemilik perusahaan sangat kuatir bahwa yang hadir akan melebihi kapasitas ruangan hotel berbintang tempat pesta akan diadakan.  Karyawan perusahaan hanya beberapa yang diundang dianggap cuma akan memenuhi ruangan tersebut, dan takutnya hanya akan mempermalukan diri di ruang penuh pejabat tersebut.

Sayangnya, para pejabat yang diharapkan hadir dan akan meningkatkan prestise sang pemilik hajat, ternyata tidak kunjung hadir.  Diantara puluhan yang diundang, hanya dua yang sukarela hadir, itupun bukan pejabat berpangkat tinggi (nah lohh...)

Banyak teman-teman yang diundang pun tidak hadir.  

Otomatis, banyak makanan yang disiapkan menjadi sia-sia. 

Hufttt....saya menulis ini, karena sedih rasanya lihat betapa banyaknya makanan sia-sia yang terbuang malam itu, betapa banyaknya biaya pergaulan orang kaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan pengakuan di lingkungannya.  Semetara saat itu, supir-supir saya kelaparan di tempat parkir, ketakutan tidak berani naik ke ruang pesta karena perintah majikannya untuk tidak bergabung sebelum pesta selesai. dan saya? tentu saja ikut solider untuk tidak bergabung bersama para tamu mengingat teman2 saya kelaparan di tempat parkir.

Malamnya, dengan masih bergaun pesta dan bulu mata palsu, terlaksanalah makan malam yang sebenarnya di suatu restoran fastfood di daerah bekasi.  Ada dua anak pengamen usia SD yang masih mencoba peruntungannya meraih rejeki dari mengamen di sekitar restoran fasfood tersebut.  Pada seorang teman, mereka mengaku baru mendapatkan uang 3000 dari hasil mengamen sore itu, bahkan makan malampun mereka belum sempat.

Hikss..terbayang banyaknya makanan di ruang pesta malam tadi.  Kalau makanan-makanan itu di bungkus dan di 'sebar' di lampu merah, maka betapa banyaknya anak jalanan yang malam itu berkesempatan makan mewah.  Dan uang tiga ribu rupiah yang mereka dapatkan, betapa kontrasnya dengan harga sebatang mawar yang saya ambil dari pesta malam itu.  Bahkan uang itupun, tidak cukup untuk membeli sebatangnya.

Hari ini, sang pengantin baru sedang berbulan madu ke Maldives (entah di belahan dunia mana tempat itu...saya tidak tahu..) Yeah..tentu saja mereka tidak perduli bahwa uang yang digunakan untuk pesta pernikahan tersebut menggunakan uang perusahaan, dan pembayaran material proyek tertunda karena cashflow terganggu.  Mereka juga pasti tidak perduli bahwa orang tua mereka saat ini sedang mengemis untuk meminta penambahan kredit line di bank.  Yah..anak-anak itu pasti tidak perduli.

Dan..yah..saya mulai muak pada bayangan pesta malam itu, tempat dimana saya berdandan cantik seperti sebuah hiasan, segalanya berlimpah ruah seperti layaknya pesta kerajaan, sementara diluar sana berlimpah ruah mahkluk kelaparan yang mempertaruhkan dirinya hanya demi uang logam 500 rupiah...







Read More...

Senin, 16 Januari 2012

Me and Mine

Inilah saya hari ini...


Suami yang nun jauh disana, yang sedang memperjuangkan harga dirinya...

Putri cantik yang menunggu di rumah setiap hari...errr..tepatnya menunggu apa yang di bawa ibunya setiap pulang kerja....

Sahabat yang berada di negeri antah berantah yang sedang memeluk mimpi-mimpinya...

Orang tua yang tetap selalu menjadi orang tua yang sama seperti 20 tahun yang lalu...

Saya....

Duduk di sini, berkejaran dengan waktu, mengejar persinggahan hidup selanjutnya, menjadi karyawan yang baik, mahasiswa teladan, dan menjadi malaikat untuk anak surga satu-satunya.....

Everything has their own purpose...tidak ada satu hal pun yang di gariskan untuk sebuah kesia-siaan...

Yang bisa saya lakukan hari ini adalah bersyukur dan bekerja untuk yang terbaik...

Yes, I feel soooo lonely...but, we don't have time for tears, do we?


Read More...

Minggu, 04 Desember 2011

Learning from somebody's life

Sabtu yang baru lewat kemarin, dihabiskan dengan kuliah dan diakhiri dengan pertemuan saya dengan seorang sepupu saya bersama dengan istrinya dan teman sma-nya yang adalah mantan...errr...apa ya namanya, orang nomor satu yang saya taksir sejak sma dan sampai sekarang ngga kesampaian.  Jadi apa tuh namanya ya?? Coba deh...kasih tau....


Okey, fokusnya bukan dia.  Fokusnya adalah sepupu saya itu, yang terakhir saya temui beberapa bulan yang lalu.

Sekitar satu tahun lalu dia di vonis dokter menderita sejenis kanker stadium 3 di tenggorokanya.  Entah apa istilah kedokterannya untuk kanker itu, yang jelas, hingga hari ini, perubahan di dalam dirinya sangat mencolok, kondisi tubuhnya menurun drastis, emosinya tidak stabil, dan pastinya berat badannya merosot tajam.

Sejak hari itu, semua seperti menduduki bom waktu yang tidak ada tahu kapan akan meledak atau malah mungkin tidak meledak sama sekali.  Semua seperti berlari mengalahkan waktu.  Kemotherapy, Radiotherapy, dan apapun diupayakan untuk kesembuhannya.


Kemarin, saya dan teman sma-nya berusaha menemuinya.  Jauh di dalam hati, saya juga ngga tau kapan waktunya, dan gimana kondisinya.  Gugup........


Dan....saat bertemu dengannya, mau nangis rasanya....dia kehilangan 70% bobot tubuhnya, wajahnya menghitam karena efek radiotherapy, lidahnya kaku akibat  kemotherapy dan beberapa indranya tidak berfungsi dengan normal akibat terapi-terapi yang dia jalankan selama 8 bulan terakhir ini.


Yang membuat saya makin nahan tangis adalah semangat hidupnya yang tinggi.  Tidak mengeluh apapun.  Dia bahka masih mengemudi mobil dengan baik, menjalankan fungsinya sebagai suami dengan tidak menelantarkan istrinya untuk pulang sendiri.  Dia pun masih sempat melontarkan candaan terhadap tubuhinya yang terkena akibat terapi.


Huffff....saya tau kok, terapi itu menguras banyak waktu dan uang. Dan saat dia mampir ke rumah saya, sempat terdengar dia bercerita bahwa efek terapi itu membuat beberapa giginya lepas, insomnia berat, kehilangan konsentrasi, dan mengacaukan indra perasanya.  Bahkan untuk dapat tidur, demi agar sakitnya sedikit hilang, dia harus mengkonsumsi obat penghilang rasa sakit dan obat tidur.


Dan malam itu, saat saya hanya berduaan dengan dia, tidak sedikitpun dia mengeluhkan penyakitnya.  


Hari ini, saya demam, sakit tenggorokan dan belum bisa tidur nyenyak sejak semalam.  Sementara suami saya dengan nyenyaknya tidur tanpa menemani saya, membuat saya sedikit dongkol.  Pengen marah2 dan kesal karena penyakit yang datang tiba-tiba ini.


Tapi menit berikutnya, terbayang wajah sepupu saya.  Kebayang rasa sakitnya, dan dia hanya bilang "aku ki mestine maturnuwun yo jeng..." (saya tu harusnya bersyukur ya jeng...) dan bukan keluhan yang dia ucapkan.


Saya? 


Saya sehat, hasil kerja saya cuma untuk senang2 bukan berobat seperti dia, anak dan suami saya, orang tua saya adalah anugerah...dan saya masih mengeluh panjang pendek karena gerah, karena sakit tenggorokan dan kadang cuma karena sepatu saya yang terselip entah kemana....


Harus lebih banyak bersyukur, lucy....... Read More...

Senin, 26 September 2011

FRIENDSHIP.....

Percakapan di sebuah warung padang di depan sebuah kampus tidak ternama di pinggiran Jakarta:


Him    :  Kalo lo ga suka ama orang, muka lo ga usah kenceng gtu dong...

Me     :  Udah dari lahir begini.....

Him    :  Masalah lo ama dia apaan sih?

Me     :  Gak ada.  Cuma gw ga suka orang ngelecehin dan ngehina orang lain.  Gw ga jauhin orangnya, tapi gw lebih suka diem daripada sekali ngomong, gw nyakitin orang...

Him   :  Sama aja neng.....
            Emang dia kenapa?

Me    :  Sekarang gw nanya dulu...dodi (nama disamarkan yaaaa....untuk menghindari subjektifitas...) kerjaannya apa? Bener dia kerja di PLN??

Him   :  Gak.  Dia kerja jadi tukang delivery di kfc.

Me    :  Lo pernah deket ama Dodi?

Him   :  Pernah

Me    :  Jadi, lo dan Dodi pernah deket.  Dan mbak-mbak yang lo bilang mesti gw baik2in itu, udah ngelecehin Dodi di grup BB. Dia sering nyebut Dodi dan kerjaannya buat hina2an.  Gue ga suka. Tapi gue males komen.  Dan mumpung karena grup ga jelas itu henpon gw jadi hang mulu, maka gw apus itu grup dari bb gw. 

Him   :  O....lu gila ya...gara2 gitu, lo bakal dikucilin di kelas.

Me    :  Gue ga perduli.

Him   :  Emang lo ga bisa diem aja?

Me    :  Gue ga suka liat orang lain menghina orang lain.  Dan buat gw orang kaya gitu, ga berharga buat gw sebut teman.  Gw ga perlu eksis kalo eksistensi ternyata harus didapat dari komunitas temen yang kaya gtu.....  Lagian, kalo mereka mau kucilin gue, ya udah...tapi jangan minta bantuan gw kalo ada apa2 ya....

Him   :  Sombong gitu...

Me    :  Sombong dari mana? Emang lo ga liat, semua tugas gw di kopi abis ama dia dan gengnya, cuma diganti nama doang, bahkan sampe kisi2 pun di copy buat contekan mereka.  Mana pernah gw protes.  Sampe tiap ada tugas gue bikin dua set demi biar punya gw ga ilang, gw kasih set yang lain.  Kalo emang ga suka ama gue, ga usah pinjem2 atau sms minta di forward...

Gw muak liat orang yang bukan apa2, bully orang lain, melecehkan...menghina kaya dia adalah dewa....

Ngerasa cantik atau gaul???  Hei....gw bisa bilang, masih cantikan gw yang kucel gini daripada dia....mau telanjang abis mandi juga bodinya dijamin bagusan gw kemana2...trus mau sombong apa??? Anak orang kaya? Emak dia yang kaya kenapa dia yang tengik???

Him   :  Gue jadi takut ama lo...takut kalo ga sreg ama mood lo lantas lo jauhin gw..

Me    :  Toleransi gue tinggi, bang...gw cuma ga toleransi hal-hal yang lo anggep remeh kaya gitu....


Dan itu adalah percakapan beberapa bulan yang lalu....
Sabtu lalu, percakapan yang sama hampir terulang lagi, setelah seorang teman tampak berkeberatan utk tampak bersama-sama dengan kami...

Him   :   Tuh kan ci, lo di jauhin ama geng A

Me    :  Gue ga peduli...

Him   :  Lu gila ya....

Me    :  Kan gue bilang, gue ga perduli bahkan saat seluruh dunia ngucilin gue....apalagi saat gw ga berbuat salah kaya gini...

Him   :  Lo bener2 gila

Me    :  Bang, lo apaan sih.....salah gue apaan? Masih karena gw ngejauhin mereka gara2 gw ngebela dodi??
            Gw bukan apa2nya dodi, gw bukan apa2nya mereka...tapi gw nangis saat dodi digituin.  Gw yang bukan apa2nya dodi, cuma berempati sama dodi.  Lah elo? Yang lo suka minta tolong ama dia, yang kata lo deket ama dia? Lo dimana???? Kenapa lo ga bela??? Kenapa lo ketakutan dikucilin orang gara2 bela temen lo sendiri? Nyali lo mana??? Gue ga bakalan mati cuma karena ga temenan ama mereka kok.  Cari temen tuh gampang banget...cari temen yang bener yagn susah...sekarang terserah lo deh..kalo emang lo takut deket2 gw, maka menjauh lah...gw ga takut sendirian kok....gw ga bakalan musihin lo, tapi kalo lo takut, gak papa kok lo temenan ama mereka...gw ga bakalan mati cuma karena sendirian.....




Dan sekarang saya masih tidak mengerti apa yang manusia itu pikirkan.....Semalam saya menangis tanpa tau apa yang saya tangisi..entah kepergian sahabat saya, entah masalah itu, entah apa....





Read More...

Senin, 05 September 2011

Life

Cuti lebaran tahun ini saya habiskan untuk mudik dan bersenang-senang dengan orang tua, mertua dan semua keponakan saya di kampung besar bernama Solo.  Yahh..kurang lebihnya sama dengan tahun-tahun sebelumnya.   Kerja setahun, dihabiskan dalam waktu sembilan hari ....waw....


Menyenangkan sangat saat saya melihat, semua orang apapun agamanya, apapun kepercayaannya saling mengucapkan salam dan mengucapkan maaf kepada sesamanya.  Hidup terasa begitu indah....

Hari Minggu pagi kami kembali ke Jakarta.  Penerbangan yang biasanya hobi delay, ternyata kali ini tepat waktu...manisss.....dan anak saya tidur lelap sesaat setelah kami masuk pesawat....dan saya berpikir bahwa perjalanan akan menyenangkan.

Ternyata penerbangan tidak senyaman saat berangkat.  Beberapa awan tebal menggantung di langit. Beberapa menit setelah take off, pesawat menembus awan dan mengalami sedikit turbulensi..pesawat bergetar dan beberapa anak berteriak.

Yang ada di pikiran saya? Nothing......
Iya saya takut...sedikit...bohong kalo saya gak bilang takut........
Dan saya masih tidak berdoa...malu dong sama Tuhan...wong tiap hari juga ga berdoa, kadang malah meragukan keberadaannya.....trus kalo dalam keadaan kepepet, mesti mewek2 ngemis minta idup?  oh....no no no.....

Yang saya lakukan hanyalah, memeluk erat bayi saya dan memegang tangan suami tercinta saya.  Bukan doa untuk minta selamat yang keluar dari mulut saya, tapi doa supaya kami tetap bersama-sama apapun yang terjadi.  Kalo harus selamat ya selamatkan kami bertiga, kalo harus lewat ya, kami harus bertiga...dan tengah-tengah diantaranya, tidak akan kami terima.........

Saya tidak takut mati...karena mati pada hakikatnya adalah kepastian untuk semua yang hidup...saya, kamu, dia, tinggal tunggu waktu antrian...tidak ada yang perlu ditakuti.....yang saya inginkan cuma tetap bersama dengan suami dan bayi  saya...karena merekalah oksigen saya....nafas saya, detak jantung saya.....dimana saya hidup semata hanya karena mereka....

Read More...

Kamis, 18 Agustus 2011

What a hectic days....




Banyak hal yang terjadi dalam beberapa hari belakangan ini.  Hal-hal yang akan membuat saya membuat semakin mengerti di lingkungan mana saya bertumbuh....

Minggu lalu, seorang teman senior pecinta alam saya menghubungi saya mengenai kesediaan saya untuk memberikan darah saya untuk istri temannya yang sedang dalam keadaan kritis.  Sayangnya saya tidak memenuhi syarat, tapi suami saya tercinta bisa, dan berangkat lah dia....Senior saya mengatakan bahwa dia membutuhkan banyak sekali darah tipe tersebut.

Spontan saya forward sms itu ke grup bbm PMR sekolah saya...yak..PMR...Palang Merah Remaja, yang tugasnya adalah katanya demi kemanusiaan.....dan....tidak ada respon....

Saya pikir postingan saya tidak di respon  karena ini jam sibuk dan tidak ada manusia yang kurang kerjaan seperti saya yang mantengin hp tiap menit, Sejam...dua jam...tiga jam...dan tetap tidak ada respon....sampai hari berganti dan saya terima pesan bahwa istri teman senior saya itu meninggal....My Godness.....

Hadapilah sulitnya mencari teman dalam kesulitan.......tidak ada respon sedikitpun..sama sekali...satu patah kata pun tidak....dan saya jadi tahu, teman-teman macam apa mereka ini....., dan saya jadi tahu, bukan tipe pertemanan seperti ini yang saya inginkan...dan saya tinggalkan grup itu saat itu juga....

Minggu berikutnya, seorang teman kampus saya menjudge saya bahwa saya hipersensitif, hanya karena saya tidak menyukai teman sekelas saya yang lain yang setiap kalimatnya merendahkan teman yang lain.  
Teman perempuan yagn selalu merendahkan orang lain itu, tidak secantik luna maya, tidak seramping jessica iskandar...dia cuma beruntung orang tuanya sedikit kaya.  Apapun dia, bagi saya tidak ada hak dia untuk merendahkan orang lain di depan orang banyak....dan bagi saya, manusia semacam itu, ada diluar daftar pertemanan saya....

Sumpah, saya ngga hipersensitif.  Saya cuma ngga suka dengar orang mencela kelemahan orang lain.  Saya benci orang seperti itu.  Saya sama sekali tidak mentoleransi penghinaan terhadap orang lain.

Dan teman saya itu mengatakan bahwa dia takut bergaul dengan saya.....dia takut dengan ke hipersensitifan saya....Yah..itu pilihan kamu, saya tidak takut bahkan saat seluruh dunia menentang saya dan mengasingkan saya......

Dan yang terakhir, kalimat-kalimat yang menyentuh harga diri saya...kesan bahwa saya adalah sebuah pilihan...Maaf....saya perempuan, itu kodrat saya...tapi saya memilih untuk tidak menjadi pilihan....saya yang menentukan apa yang harus lakukan terhadap kamu...bukan sebaliknya...karena ini hidup saya dan pilihan saya....


 
Read More...

Selasa, 09 Agustus 2011

My Husband's Heart....

DISCLAIMER:
Karena postingan di blog ini tidak untuk di konsumsi publik, maka saya berhak menulis apa saja tanpa disangka pamer atau pun mengintimidasi seseorang....

hehe....

Pukul 14.30 dan saya bangga sekali pada suami saya tercinta....penganut aliran kepercayaan kepada dewa tapir, tapi memiliki hati sebesar gunung everest.....

Siang ini satu teman SMA saya mengirim pesan bahwa istri dari temannya membutuhkan darah karena suatu penyakit dan kondisinya memburuk.  Menit berikutnya saya menghubungi suami saya yang setahu saya memiliki golongan darah yagn sama dengan si pasien tersebut.  Menit berikutnya, suami saya tanpa alasan langsung menyatakan kesediaannya untuk berangkat ke PMI untuk membantu istri teman saya tersebut.

Hiks...suami saya baru saja selesai dari workshop dan belum sempat makan siang.  Tapi dia tidak menjadikan  hal itu sebagai alasan.   Nyawa lebih penting dari segalanya, begitu dia bilang.....

Huffff........pelajaran yang indah darinya.....itulah mengapa Tuhan mengirim dia ke samping saya, yaitu supaya saya dapat terus menerus belajar dari sosok yang nyata, menjadi seseorang yang berempati dan memiliki hati untu orang lain....

I LOVE YOU Ayah.....
Read More...