Sabtu lalu adalah hari pernikahan putra mahkota pemilik perusahaan ini.
Seperti perkiraan semua orang, pesta pernikahan itu dilangsungkan dengan sangat meriah. Benar-benar pernikahan impian semua perempuan single di negeri ini. Pernikahan yang menghabiskan budget hampir dua milyar tersebut, sekiranya akan dihadiri oleh lebih dari 1300 pasang undangan dan termasuk di dalamnya para bupati dan kepala daerah yang menjadi rekan bisnis perusahaan ini.
Karena banyaknya undangan yang disebarkan, sang pemilik perusahaan sangat kuatir bahwa yang hadir akan melebihi kapasitas ruangan hotel berbintang tempat pesta akan diadakan. Karyawan perusahaan hanya beberapa yang diundang dianggap cuma akan memenuhi ruangan tersebut, dan takutnya hanya akan mempermalukan diri di ruang penuh pejabat tersebut.
Sayangnya, para pejabat yang diharapkan hadir dan akan meningkatkan prestise sang pemilik hajat, ternyata tidak kunjung hadir. Diantara puluhan yang diundang, hanya dua yang sukarela hadir, itupun bukan pejabat berpangkat tinggi (nah lohh...)
Banyak teman-teman yang diundang pun tidak hadir.
Otomatis, banyak makanan yang disiapkan menjadi sia-sia.
Hufttt....saya menulis ini, karena sedih rasanya lihat betapa banyaknya makanan sia-sia yang terbuang malam itu, betapa banyaknya biaya pergaulan orang kaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan pengakuan di lingkungannya. Semetara saat itu, supir-supir saya kelaparan di tempat parkir, ketakutan tidak berani naik ke ruang pesta karena perintah majikannya untuk tidak bergabung sebelum pesta selesai. dan saya? tentu saja ikut solider untuk tidak bergabung bersama para tamu mengingat teman2 saya kelaparan di tempat parkir.
Malamnya, dengan masih bergaun pesta dan bulu mata palsu, terlaksanalah makan malam yang sebenarnya di suatu restoran fastfood di daerah bekasi. Ada dua anak pengamen usia SD yang masih mencoba peruntungannya meraih rejeki dari mengamen di sekitar restoran fasfood tersebut. Pada seorang teman, mereka mengaku baru mendapatkan uang 3000 dari hasil mengamen sore itu, bahkan makan malampun mereka belum sempat.
Hikss..terbayang banyaknya makanan di ruang pesta malam tadi. Kalau makanan-makanan itu di bungkus dan di 'sebar' di lampu merah, maka betapa banyaknya anak jalanan yang malam itu berkesempatan makan mewah. Dan uang tiga ribu rupiah yang mereka dapatkan, betapa kontrasnya dengan harga sebatang mawar yang saya ambil dari pesta malam itu. Bahkan uang itupun, tidak cukup untuk membeli sebatangnya.
Hari ini, sang pengantin baru sedang berbulan madu ke Maldives (entah di belahan dunia mana tempat itu...saya tidak tahu..) Yeah..tentu saja mereka tidak perduli bahwa uang yang digunakan untuk pesta pernikahan tersebut menggunakan uang perusahaan, dan pembayaran material proyek tertunda karena cashflow terganggu. Mereka juga pasti tidak perduli bahwa orang tua mereka saat ini sedang mengemis untuk meminta penambahan kredit line di bank. Yah..anak-anak itu pasti tidak perduli.
Dan..yah..saya mulai muak pada bayangan pesta malam itu, tempat dimana saya berdandan cantik seperti sebuah hiasan, segalanya berlimpah ruah seperti layaknya pesta kerajaan, sementara diluar sana berlimpah ruah mahkluk kelaparan yang mempertaruhkan dirinya hanya demi uang logam 500 rupiah...