Selasa, 28 September 2010

KAMU.....

Saya rindu....

Mohon katakan kepadaNya,
apabila Dia berkenan,
sampaikan bahwa saya siap....

Mohon hampiri saya sekarang,
supaya saya dapat kembali bersamamu,
bercerita tentang anjing-anjing kita
tentang bangunan-bangunan aneh kita
dan bintang-bintang kita....
Read More...

Selasa, 21 September 2010

bagiMu bagiKu



Postingan status salah satu teman di dinding facebook-nya cukup mengusik saya hari ini.

Tulisannya tentang surga dan agama membuat saya tergerak untuk mencari tahu berita hari ini yang membuat dia berani menuliskan sesuatu yang cukup sensitif di sebuah ruang publik (bagi saya, Facebook adalah sebuah ruang publik, dimana banyak orang dapat melihatnya dan berkomentar apapun yang mereka mau).

Saya tidak pernah mengerti, pembahasan terus menerus mengenai perbedaan agama di negara ini.  Bukankah perbedaan adalah suatu kekayaan yang seharusnya diterima dengan suka cita oleh semua pihak sebagai bagian dari keragaman?  Lalu kenapa orang lain yang memeluk agama berbeda selalu dipandang sebagai mahluk yang aneh? Kafir? Atheis? 

Saya sendiri beragama hanyalah bagian dari sebuah budaya dan tradisi.  Saya menganut agama warisan, dimana agama tersebut telah direncanakan untuk diberikan dan diberikan sesaat setelah saya lahir tanpa saya mendapatkan kesempatan untuk mengajukan keberatan.  Sampai sekarang saya masih memeluk agama tersebut, bukan karena saya pemeluk agama yang taat, tetapi lebih karena agama yang saya peluk lebih sederhana, tidak menggunakan ancaman dan iming-iming ini itu supaya saya taat.  Saya diberi kesempatan untuk menyembah tuhan karena memang saya ingin, dan karena saya mau, karena saya cinta dan bukan karena takut atau menginginkan segala bentuk pahala.

Setelah saya dewasa, saya merasa tidak penting lagi apakah sosok tuhan itu ada atau tidak.  Hidup bagi saya adalah melakukan yang baik, dan bermanfaat bagi orang lain.  Sebisa mungkin saya hindari untuk merugikan orang lain.  Agama hanya sebuah identitas.  Intinya adalah bagaimana saya dapat menjalani hidup saya dengan baik, dengan argo yang diberikan untuk mengembara di dunia ini.

Kadang saya merindukan sosok Tuhan.  Pernah saya menangis berjam-jam untuk melegakan perasaan.  Saat itu saya berharap, Tuhan dapat hadir dan menyapa saya, memberikan kekuatan kepada saya atau paling tidak berbisik kepada saya dengan suara yang paling halus, seperti yang diceritakan dari kesaksian-kesaksian yang sering saya tonton di TV. Tapi ternyata semua diam.  Saya sungguh berharap sosok itu sungguh ada, tapi tidak sebentuk reaksi pun mampir di doa saya. 

Huff....terus terang saya belulm berani menyatakan kepada semua orang bahwa saya memilih sebagai seorang agnostic.  Saya masih beribadah, hanya demi menjaga perasaan kedua orang tua saya.  Saya tidak mau membuat mereka sedih karena mereka menganggap diri mereka gagal menanamkan pendidikan agama pada diri saya.  

Memang benar tulisan teman saya itu.  Jalan ke surga, atau ada tidaknya surga baru bisa diketahui nanti, saat ajal menjemput.  Bukan hari ini, bukan kemaren, bukan besok.  Yang terbaik adalah lakukan yang terbaik untuk hari ini, bagi mereka yang kita kenal.  Kalaupun surga memang ada, mudahan saya ikut dapat nomor untuk ikut antri dalam kerajaan surga tersebut, atau kalau tidak ada, paling tidak saya sudah membuat hidup saya bernilai bagi orang lain, dan tidak membuang argo umur saya dengan sia-sia untuk melakukan sesuatu yang merugikan orang lain.
Read More...

Kamis, 16 September 2010

The Start




Finally...My Own Blog!!!!!

Setelah menimbang ini itu, dan membaca sana sini, jadi ngiler punya blog sendiri.....
Mudah-mudahan berguna, paling tidak untuk diri sendiri, jadi sarana pengembangan diri, dan pelepasan kejenuhan sejenak....
Read More...