Selasa, 21 Juni 2011

tentang HATI

Membaca berkali-kali forward-an link mengenai seorang Bapak yang menggendong jenazah putrinya dari Jakarta ke Bogor, hari ini...membuat saya, tidak bisa berkata apa-apa...


Malam tadi pertama kalinya saya membaca berita tersebut.  Jenazah anaknya yang berusia tiga tahun, tak terbayangkan rasanya.  Saya pandangi putri kecil saya,  rasanya anak itu dan anak saya mungkin tidak berbeda jauh.  Mereka hampir seumur.  Tak terbayangkan kalau saya jadi Bapak itu, lelah, marah, sedih bercampur jadi satu....Saya ciumi anak saya dan sampai saya jatuh tertidur di pelukannya, sambil mengucap syukur bahwa putri kecil saya hampir memiliki segalanya.

Pagi ini, sekali lagi saya di forward berita yang sama.  Yang memforward adalah teman sekerja saya melalui grup di bbm.  Mendadak saya merasa kesal.  Tangan saya spontan mengetik respon atas berita tersebut "Yang seperti itu tidak perlu dibahas terus menerus.  Bukan bersyukur atau tidak bersyukurnya yang perlu dibahas, tapi bagaimana kita bisa berempati pada sesama.  Apabila bapak itu ada di samping kita sekarang, apa mungkin kita bisa mengiklaskan uang kita untuk sekedar membantu membeli kafan?"

Tidak ada respon....sama sekali....

Mudah-mudahan orang yang memforward link itu, bisa memikirkan respon saya.  Orang yang hanya iklas mengeluarkan uang dua ribuan untuk uang duka, berani-beraninya mengirimkan link seperti itu dan mengajarkan saya untuk bersyukur.

Dan..untuk lelaki saya,mohon maaf..... ijinkan saya untuk menyampaikan sesuatu, bahwa detik ini saya memutuskan, untuk tidak berevolusi menjadi manusia yang tidak berhati, yang kamu sarankan kepada saya utnuk berubah, agar saya dapat bertahan hidup.  Saya memilih untuk memiliki hati, walaupun akhirnya saya tidak dapat bertahan di tempat ini.  Biarkan saya menjadi diri saya, yang mampu membagi cinta saya untuk semua orang.  Mohon jangan desak saya untuk menjadi monster mengerikan seperti itu....karena saya, masih ingin melihat orang-orang disekitar saya tersenyum karena saya...
Read More...

Senin, 06 Juni 2011

perempuan....





Pembicaraan kemaren sore dengan si bos mengenai seorang teman yang sedang dikenai hukuman, menyisakan beberapa pertanyaan.  Tidak lain karena saya mendengar kasus yang sama dari sisi yang berbeda.  Dari sisi si bos dan teman saya sendiri. 

Bos saya, perempuan baik-baik, jantung perusahaan, cantik, dan sempurna. Suaminya ganteng, dan memiliki perempuan2 lain dalam hidupnya, yang salah satunya juga dikenal baik oleh istrinya.Teman saya, perpaduan jawa flores, perempuan baik-baik, anak tunggal yang mewarisi harta orang tuanya.  Punya rumah besar dan kos2an.  Hidupnya mapan walaupun dia tidak memiliki posisi penting di perusahaan.  Suaminya polisi, tidak berpangkat tinggi tapi memiliki perempuan lain yang jauhhhh tidak cantik dari pada istrinya.

Bos saya bilang,
"Pantas aja si 'anu' ditinggal pacaran sama suaminya.  Abis dia galak sih sama suaminya.  Dia merasa dia punya rumah, jadi suaminya di sia2in.  Dia ngaduin suaminya ke atasannya adalah kesalahan besar.  Nanti suaminya hidupnya akan sengsara.  Padahal mah, diikutin aja, jadi perempuan gak usah banyak protes, toh nanti akan balik sendiri"

Teman saya bilang,
"Suami saya ngga pernah kasih nafkah.  Serupiah pun tidak.  Dia pukul saya, saya diam.  Saya sudah cukup lama diam, dan saya tidak boleh diam lagi.  Dia boleh punya istri lagi, asal dia tanggung jawab terhadap keluarganya. "

Dan akhirnya saya bilang,
"Kalau suaminya tidak pernah kasih nafkah, tidak tanggung jawab atas keluarga dan punya istri lain, apa kah wajar kalau si istri sah diam saja?  Apa kalau ada kekerasan, dia juga harus diam saja? Apakah istri harus diam saja dan pasrah menunggu saat suaminya kembali?"

Apa yang dipikir si bos mencerminkan pikiran orang-orang lain di masyarakat?  Bahwa perempuan harusnya hanya diam, sejelek apapun kelakuan suaminya?  Bahwa perempuan cuma jadi mesin anak dan pengurus rumah tangga tanpa boleh menawar?  

Dan mendadak, saya sungguh menyesal dilahirkan menjadi perempuan...
Read More...

Minggu, 05 Juni 2011

Children of Heaven..





Saya merindukan rumah singgah kami, sebuah gubuk reot berdindingkan bilah bambu yang berdiri di dipinggir sungai seberang terminal Tirtonadi, Solo, rumah seorang anak perempuan yang bernama Sri Mulyati yang tinggal bersama kedua orang tuanya yang berlega hati menyediakan rumahnya untuk disinggahi anak-anak tak berbapak atau tak beribu yang menggelandang di terminal Solo.  Mereka bukan orang kaya, tapi mereka punya keiklasan untuk berbagi lebih dari yang saya dan kamu punya, yang selalu bercita-cita agar putrinya bersekolah tinggi, dan memiliki kehidupan yang jauh lebih baik dari mereka, walau mereka tau mereka tidak mampu. 

Saya rindu rumah singgah yang telah mempertemukan saya dan suami tercinta saya.  Tempat kami menyumbangkan sedikit menit waktu kami, mendengarkan mereka bercerita, bermain-main dan membuat mereka tersenyum.  Belajar menghitung satu dua atau sekedar membaca A I U E O.  Satu kalimat yang keluar dari pacar saya saat itu, dan tidak akan pernah akan saya lupakan sampai detik ini, katanya "Belajar lah dik..membacalah...supaya kita tidak ditipu orang...kita boleh miskin, tapi kita tidak boleh bodoh...karena orang bodoh pasti akan dilibas oleh orang pintar, dan kita cuma akan bisa gigit jari".  

Sehebat apapun mereka menghadapi hidup, mereka tetaplah anak-anak.  Mereka yang terkagum-kagum melihat mainan sederhana yang bernama halma, yang ternganga saat kami bawa beberapa boneka bayi yang bisa menangis, atau makan malam di warung sate di pojokan rumah singgah dan dan seorang anak laki-laki spontan berkata "mbak satenya enak, tapi punya aku dibungkus saja, biar ibu juga ikut ngerasain..." dan air mata saya meleleh tak tertahankan saat itu juga......

Rumah singgah tempat saya bertemu dua orang kakak beradik yang amat sangat ingin sekolah, tetapi dilarang oleh kedua orang tuanya, karena mereka lah pencari nafkah utama di keluarga.  Ayahnya pergi entah kemana.  Ibunya memilih untuk di rumah saja, dan membiarkan anak2nya mengamen, mencari nafkah menghidupi orang tuanya.   Terdengar aneh memang, tapi inilah kenyataan....

Saya rindu untuk kembali ke tempat itu.  Saya rindu untuk belajar hidup bersama mereka.  Senyum lugu anak-anak itu, selalu membawa saya ingin terus kembali.  Akan saya bawa anak perempuan saya agar dia pun belajar untuk dapat menghargai setiap hal yang dia miliki.......


gambar di salin dari:
http://3.bp.blogspot.com/-jzuL06FrXCg/TeIEk-TX9dI/AAAAAAAAAIY/xwJXwmdYN0U/s320/anak%2Bjalanan.jpg
Read More...