Pembicaraan kemaren sore dengan si bos mengenai seorang teman yang sedang dikenai hukuman, menyisakan beberapa pertanyaan. Tidak lain karena saya mendengar kasus yang sama dari sisi yang berbeda. Dari sisi si bos dan teman saya sendiri.
Bos saya, perempuan baik-baik, jantung perusahaan, cantik, dan sempurna. Suaminya ganteng, dan memiliki perempuan2 lain dalam hidupnya, yang salah satunya juga dikenal baik oleh istrinya.Teman saya, perpaduan jawa flores, perempuan baik-baik, anak tunggal yang mewarisi harta orang tuanya. Punya rumah besar dan kos2an. Hidupnya mapan walaupun dia tidak memiliki posisi penting di perusahaan. Suaminya polisi, tidak berpangkat tinggi tapi memiliki perempuan lain yang jauhhhh tidak cantik dari pada istrinya.
Bos saya bilang,
"Pantas aja si 'anu' ditinggal pacaran sama suaminya. Abis dia galak sih sama suaminya. Dia merasa dia punya rumah, jadi suaminya di sia2in. Dia ngaduin suaminya ke atasannya adalah kesalahan besar. Nanti suaminya hidupnya akan sengsara. Padahal mah, diikutin aja, jadi perempuan gak usah banyak protes, toh nanti akan balik sendiri"
Teman saya bilang,
"Suami saya ngga pernah kasih nafkah. Serupiah pun tidak. Dia pukul saya, saya diam. Saya sudah cukup lama diam, dan saya tidak boleh diam lagi. Dia boleh punya istri lagi, asal dia tanggung jawab terhadap keluarganya. "
Dan akhirnya saya bilang,
"Kalau suaminya tidak pernah kasih nafkah, tidak tanggung jawab atas keluarga dan punya istri lain, apa kah wajar kalau si istri sah diam saja? Apa kalau ada kekerasan, dia juga harus diam saja? Apakah istri harus diam saja dan pasrah menunggu saat suaminya kembali?"
Apa yang dipikir si bos mencerminkan pikiran orang-orang lain di masyarakat? Bahwa perempuan harusnya hanya diam, sejelek apapun kelakuan suaminya? Bahwa perempuan cuma jadi mesin anak dan pengurus rumah tangga tanpa boleh menawar?
Dan mendadak, saya sungguh menyesal dilahirkan menjadi perempuan...

hhhhhhhhhhh.. speechless...
BalasHapus