Saya merindukan rumah singgah kami, sebuah gubuk reot berdindingkan bilah bambu yang berdiri di dipinggir sungai seberang terminal Tirtonadi, Solo, rumah seorang anak perempuan yang bernama Sri Mulyati yang tinggal bersama kedua orang tuanya yang berlega hati menyediakan rumahnya untuk disinggahi anak-anak tak berbapak atau tak beribu yang menggelandang di terminal Solo. Mereka bukan orang kaya, tapi mereka punya keiklasan untuk berbagi lebih dari yang saya dan kamu punya, yang selalu bercita-cita agar putrinya bersekolah tinggi, dan memiliki kehidupan yang jauh lebih baik dari mereka, walau mereka tau mereka tidak mampu.
Saya rindu rumah singgah yang telah mempertemukan saya dan suami tercinta saya. Tempat kami menyumbangkan sedikit menit waktu kami, mendengarkan mereka bercerita, bermain-main dan membuat mereka tersenyum. Belajar menghitung satu dua atau sekedar membaca A I U E O. Satu kalimat yang keluar dari pacar saya saat itu, dan tidak akan pernah akan saya lupakan sampai detik ini, katanya "Belajar lah dik..membacalah...supaya kita tidak ditipu orang...kita boleh miskin, tapi kita tidak boleh bodoh...karena orang bodoh pasti akan dilibas oleh orang pintar, dan kita cuma akan bisa gigit jari".
Sehebat apapun mereka menghadapi hidup, mereka tetaplah anak-anak. Mereka yang terkagum-kagum melihat mainan sederhana yang bernama halma, yang ternganga saat kami bawa beberapa boneka bayi yang bisa menangis, atau makan malam di warung sate di pojokan rumah singgah dan dan seorang anak laki-laki spontan berkata "mbak satenya enak, tapi punya aku dibungkus saja, biar ibu juga ikut ngerasain..." dan air mata saya meleleh tak tertahankan saat itu juga......
Rumah singgah tempat saya bertemu dua orang kakak beradik yang amat sangat ingin sekolah, tetapi dilarang oleh kedua orang tuanya, karena mereka lah pencari nafkah utama di keluarga. Ayahnya pergi entah kemana. Ibunya memilih untuk di rumah saja, dan membiarkan anak2nya mengamen, mencari nafkah menghidupi orang tuanya. Terdengar aneh memang, tapi inilah kenyataan....
Saya rindu untuk kembali ke tempat itu. Saya rindu untuk belajar hidup bersama mereka. Senyum lugu anak-anak itu, selalu membawa saya ingin terus kembali. Akan saya bawa anak perempuan saya agar dia pun belajar untuk dapat menghargai setiap hal yang dia miliki.......
gambar di salin dari:
http://3.bp.blogspot.com/-jzuL06FrXCg/TeIEk-TX9dI/AAAAAAAAAIY/xwJXwmdYN0U/s320/anak%2Bjalanan.jpg

Tidak ada komentar:
Posting Komentar