Minggu, 24 Oktober 2010

Belajar untuk Pintar




Betapa banyaknya kampus di Jakarta Raya ini, dengan biaya yang beraneka rupa dari yang dibayar lunas dengan potongan sekian persen sampai yang bisa di cicil berkali-kali.  Semua memudahkan para lulusan SMA atau orang-orang yang ingin melanjutkan studi seperti saya ini.

Tapi, tidak heran, dengan banyaknya kampus, pengangguran yang terdidik justru semakin banyak.  

Saat saya browsing sana-sini untuk mencari kampus yang cocok, baru sadar bahwa yang mereka tawarkan adalah hanya sebatas ijazah, bukan ilmu. Padahal, yang saya cari saat ini adalah ilmu yang bisa saya terapkan dalam pekerjaan, bukan hanya ijazah yang menyebutkan 'eS-1' atau 'eS-2'.  

Jengkel saya. 

Hampir setiap website yang saya buka tidak menyebutkan kurikulum jurusan yang akan saya ambil.  Bagi saya seperti membeli kucing dalam karung.  Hanya namanya saja yang saya tahu, sisanya tinggal harap-harap cemas atas apa yang akan saya pelajar.

Jadi, gimana lulusan kampus-kampus itu siap kerja, wong mata kuliahnya saja ngga jelas dan tidak ada standar antara satu kampus dengan kampus yang lain...???

Atau sebelum saya mampu mendirikan kampus sendiri, ada baiknya saya terima nasib saja, kuliah di kampus yang cuma jual ijazah??


Read More...

Selasa, 19 Oktober 2010

Temen gue part 1

Friend     :  Ci...liat deh. Pake ini biar ngga bau. 
                 *sambil nunjukin masker warna putih yang dia coba pake nutupin mulutnya*


Gue        :  *Sambil tetep liat monitor dan bernada datar* O...beha ya?? Ih, modelnya nenek2 banget...


Bos Gue :   ......... *sambil dengerin tamunya ngomong di ruangannya tapi matanya ngelirik gue dengan muka ungu menahan ketawa.



Gue       :  ..............*dalem ati: What's so funny? masker yang kaya beha ato muka yang ketutupan barang kaya beha...??*
Read More...

Kamis, 14 Oktober 2010

Art of Giving


Perbincangan tentang kambing dan sapi dengan salah seorang teman pagi ini mengusik saya.

Yah...kambing dan sapi dalam konteks untuk berkurban.

Maaf, saya bukan bermaksud untuk mendiskreditkan tradisi dari suatu golongan tertentu.  Ini hanya bagian dari perspektif saya yang percaya bahwa suatu perbuatan baik cukup hanya dilandasi suatu niat baik untuk membantu sesama dalam rangka untuk menjadikan hidup saya lebih bermanfaat bagi manusia yang lain.  Untuk itulah perbuatan baik sebagai amal atau minta dihitung sebagai amal atau pun mengharapkan pahala, saya buang jauh-jauh dari kamus saya. 

Menurut teman saya yang baik tersebut, apabila kita berkurban, harus satu kambing untuk satu orang, tidak boleh patungan, atau seperti orang jawa bilang urunan. Karena kambing itu kelak akan digunakan sebagai kendaraan kita di surga.

Satu hal yang terlintas di benak saya saat itu, betapa kasihannya orang-orang miskin.  Di dunia, mereka sengsara, makan seadanya, maksudnya kalo ada ya makan kalo ngga ada ya ditahan. Ingin kemana-mana pun harus nabung untuk naik bus, kalau tidak ada uang ya jalan kaki...dan, kalau pun benar kurban adalah dalam rangka mempersiapkan kendaraan di surga, berhubung mereka tidak mampu berkurban berarti setelah mereka sampai di surga pun tetap harus jalan kaki.  Apa tradisi tidak bisa diubah? Paling tidak, satu kambing untuk dipakai bergantian, dibelinya dengan cara patungan.  Tapi ini cuma usul saya loh, diterima bagus, tidak diterima ya ngga ada pengaruh apa-apa buat saya.

Intinya, untuk orang-orang tercinta di sekitar saya, pelan-pelan ingin saya ubah pandangan mereka yang selalu mendalami ayat di Amsal yang berbunyi "Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu,maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya" supaya menjadi seperti lagu anak-anak "hanya memberi tak harap kembali".  Untuk saya setiap nafas kehidupan adalah rahmat.  Dan tidak perlu beli kambing atau menyumbang perpuluhan untuk mendapatkan rahmat tersebut.  Hanya, menjadilah berguna bagi manusia di sekitar kita dengan cara membagi kelebihan kita bagi yang membutuhkan. Stop. Tanpa mengharapkan akan dikembalikan kepada kita dalam bentuk apapun.  Karena sekali lagi, hidup adalah rahmat yang sudah diberikan terlebih dahulu.

 
Read More...

Rabu, 13 Oktober 2010

thank you




TERIMA KASIH SEMESTA ATAS PERJALANAN INI

Read More...

Minggu, 10 Oktober 2010

Life....


Tidak ada yang bisa menduga hidup akan seperti apa nantinya.  Baru saja saya katakan betapa bahagiannya saya dengan hidup saya hari itu, Suami, anak, seseorang yang bukan suami tapi selalu mendengarkan saya, sahabat, teman-teman, pekerjaan dan segalanya.  Tiba-tiba Suami saya harus meninggalkan saya dan putri kecil kami untuk bertugas. 

Hari dimana dia menyampaikan kabar itu, saya menangis hampir 12 jam, sampai sesak nafas saya.  Satu hari sebelum dia pergi, 10 jam saya menangis di pelukan dia sambil memeluk sang putri.  Di hari dia harus pergi, saya kuatkan diri untuk tidak menangis, tetapi akhirnya runtuhlah air mata itu saat saya lihat pesawatnya mulai meluncur perlahan.  Satu hari setelah dia pergi, saya tidur dengan pakaiannya, sambil memeluk sang putri yang terus memanggil ayahnya.

Hari ini, saya merindukan dia. Tetapi saya nikmati detik demi detik kerinduan saya.  Kerinduan yang sama seperti delapan tahun lalu, saat saya melepas dia di suatu tempat, tanpa ada kepastian kapan saya dapat bertemu dan kembali bersama-sama.   

Bagaimanapun...hidup masih sama indahnya bila terlewati bersama dengan orang-orang terhebat di sekitarnya..


Read More...

Jumat, 08 Oktober 2010

Firasat ....




Firasat - Marcell


kemarin kulihat awan membentuk wajahmu

desah angin meniupkan namamu

tubuhku terpaku

semalam bulan sabit melengkungkan senyummu

tabur bintang serupa kilau auramu

aku pun sadari, ku segera berlari


reff: cepat pulang

   cepat kembali, jangan pergi lagi

   firasatku ingin kau tuk cepat pulang

   cepat kembali, jangan pergi lagi


alirnya bagai sungai yang mendamba samudera

ku tahu pasti kemanakan ku bermuara

semoga ada waktu, sayangku


ku percaya alam pun berbahasa

ada makna di balik semua pertanda

firasat ini rasa rindukah atau kah hanya bayang

aku tak peduli, ku terus berlari


repeat reff


  dan lihatlah sayang

  hujan terus membasahi

  seolah turun air mata


repeat reff



Lirik lagu Marcell – Firasat ini dipersembahkan oleh LirikLaguIndonesia.Net. Kunjungi DownloadLaguIndonesia.Net untuk download MP3 terbaru.

Read More...

Menanti...


Rasanya seperti kehilangan separuh jiwa saya.  Manusia yang selalu memeluk saya setiap malam, mendengarkan cerita saya, menertawakan lelucon garing saya dan mencium saya setiap malam. Saya kehilangan dia. Komunikasi yang sangat sulit membuatnya keadaan semakin sulit saya terima.

"Kamu harus banyak belajar.." kata sahabat saya, "Kamu masih beruntung, kekasihmu hanya meninggalkanmu hanya untuk beberapa waktu.  Apa kamu kuat  menjadi seperti saya yang ditinggalkan selamanya?"

Saya diam.

Pikiran hanya hinggap pada sebuah nama.  Seorang kawan yang ditinggalkan suami tercintanya untuk selamanya, disaat yang amat tidak disangka, dengan anak-anak yang masih terlalu kecil untuk mengerti.

Yah..saya masih beruntung.  Kekasih saya pergi, tapi dia pergi hanya sementara dan dengan tetap membawa cinta kami...bukan cinta yang lain.


Read More...