Kamis, 14 Oktober 2010

Art of Giving


Perbincangan tentang kambing dan sapi dengan salah seorang teman pagi ini mengusik saya.

Yah...kambing dan sapi dalam konteks untuk berkurban.

Maaf, saya bukan bermaksud untuk mendiskreditkan tradisi dari suatu golongan tertentu.  Ini hanya bagian dari perspektif saya yang percaya bahwa suatu perbuatan baik cukup hanya dilandasi suatu niat baik untuk membantu sesama dalam rangka untuk menjadikan hidup saya lebih bermanfaat bagi manusia yang lain.  Untuk itulah perbuatan baik sebagai amal atau minta dihitung sebagai amal atau pun mengharapkan pahala, saya buang jauh-jauh dari kamus saya. 

Menurut teman saya yang baik tersebut, apabila kita berkurban, harus satu kambing untuk satu orang, tidak boleh patungan, atau seperti orang jawa bilang urunan. Karena kambing itu kelak akan digunakan sebagai kendaraan kita di surga.

Satu hal yang terlintas di benak saya saat itu, betapa kasihannya orang-orang miskin.  Di dunia, mereka sengsara, makan seadanya, maksudnya kalo ada ya makan kalo ngga ada ya ditahan. Ingin kemana-mana pun harus nabung untuk naik bus, kalau tidak ada uang ya jalan kaki...dan, kalau pun benar kurban adalah dalam rangka mempersiapkan kendaraan di surga, berhubung mereka tidak mampu berkurban berarti setelah mereka sampai di surga pun tetap harus jalan kaki.  Apa tradisi tidak bisa diubah? Paling tidak, satu kambing untuk dipakai bergantian, dibelinya dengan cara patungan.  Tapi ini cuma usul saya loh, diterima bagus, tidak diterima ya ngga ada pengaruh apa-apa buat saya.

Intinya, untuk orang-orang tercinta di sekitar saya, pelan-pelan ingin saya ubah pandangan mereka yang selalu mendalami ayat di Amsal yang berbunyi "Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu,maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya" supaya menjadi seperti lagu anak-anak "hanya memberi tak harap kembali".  Untuk saya setiap nafas kehidupan adalah rahmat.  Dan tidak perlu beli kambing atau menyumbang perpuluhan untuk mendapatkan rahmat tersebut.  Hanya, menjadilah berguna bagi manusia di sekitar kita dengan cara membagi kelebihan kita bagi yang membutuhkan. Stop. Tanpa mengharapkan akan dikembalikan kepada kita dalam bentuk apapun.  Karena sekali lagi, hidup adalah rahmat yang sudah diberikan terlebih dahulu.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar