Minggu, 12 Desember 2010

Terlalu !!!!




Pembicaraan pagi ini dengan seorang teman, masih seputar tingkah laku FPI yang semakin beringas.  Sudah tidak tahu dimana hati nurani.  Saya juga yakin, bukan agama yang membuat mereka seperti itu.  Kasian orang-orang baik yang beragama sama seperti mereka, yang akhirnya menjadi korban 'pukul rata' akibat kelakuan segelintir orang yang melakukan perbuatan tak beradap dengan berjubah 'agama'.

Yang bikin saya panas, cuma satu kalimat yang meluncur dari mulut teman seruangan saya tersebut.  Ngga ada angin ngga ada ujan, tau-tau dia bilang "Heran ya...orang HKBP, dimana2 bikin ribut. Kemaren di Bekasi, sekarang di Bandung. Emang ga bisa ya, kalo beribadah pada tempatnya.."

Dengan emosi yang saya tahan, saya bilang "Kalo orang lain boleh bangun rumah ibadah dan beribadah di sembarang tempat, kenapa dia ngga boleh, ya?......"

Dan teman saya tersebut, diam tanpa kata....

Sori om, saya ngga pernah mendiskreditkan sekte apapun. Pemuja setan sekalipun saya hormati selama dia bisa menghormati manusia lain.  Tapi kalimat kamu hari ini keterlaluan.  Jemaat HKBP itu bukan kambing, yang merumput dan buang hajat sembarangan, sehingga mengganggu pemandangan umum.  Mereka hanya menyembah Tuhan dengan cara mereka sendiri, dan saya pikir itu masih menjadi hak asasi mereka. Toh mereka pun rasanya tidak mengganggu pemandangan umum dengan bernyanyi-nyanyi atau menari-nari di tengah jalan.  Lalu, sejak kapan hak asasi menjadi larangan bagi yang memilikinya?

Maaf, bukan karena agama saya.  Sekali lagi bagi saya, agama hanyalah sarana untuk sesuatu yang lebih tinggi.  Dan bagi saya, agama bukan alasan untuk memusuhi manusia lain. Mudah-mudahan Om juga tahu, bahwa Om, saya dan mereka, sama-sama tidak tahu apa yang dinilai di akherat sana. Jadi, berlaku baiklah bukan hanya kepada penciptamu, tapi juga kepada semua ciptaanNya...




Read More...

Rabu, 10 November 2010

Pejabat Negara Gue

Beberapa waktu lalu, seorang pejabat daerah datang ke kantor sehubungan dengan beberapa administrasi proyek yang harus saya urus.


Me        :  .....supaya tidak repot sisa dokumennya akan di scan lalu saya email ke Bapak. ]
                Bisa minta alamat email Bapak?

Pejabat  :  Maaf nih Mbak, bukannya saya ngga punya uang, tapi saya cuma 
                belum ada waktu buat beli email....

Me        :  *bengong*
Read More...

Minggu, 24 Oktober 2010

Belajar untuk Pintar




Betapa banyaknya kampus di Jakarta Raya ini, dengan biaya yang beraneka rupa dari yang dibayar lunas dengan potongan sekian persen sampai yang bisa di cicil berkali-kali.  Semua memudahkan para lulusan SMA atau orang-orang yang ingin melanjutkan studi seperti saya ini.

Tapi, tidak heran, dengan banyaknya kampus, pengangguran yang terdidik justru semakin banyak.  

Saat saya browsing sana-sini untuk mencari kampus yang cocok, baru sadar bahwa yang mereka tawarkan adalah hanya sebatas ijazah, bukan ilmu. Padahal, yang saya cari saat ini adalah ilmu yang bisa saya terapkan dalam pekerjaan, bukan hanya ijazah yang menyebutkan 'eS-1' atau 'eS-2'.  

Jengkel saya. 

Hampir setiap website yang saya buka tidak menyebutkan kurikulum jurusan yang akan saya ambil.  Bagi saya seperti membeli kucing dalam karung.  Hanya namanya saja yang saya tahu, sisanya tinggal harap-harap cemas atas apa yang akan saya pelajar.

Jadi, gimana lulusan kampus-kampus itu siap kerja, wong mata kuliahnya saja ngga jelas dan tidak ada standar antara satu kampus dengan kampus yang lain...???

Atau sebelum saya mampu mendirikan kampus sendiri, ada baiknya saya terima nasib saja, kuliah di kampus yang cuma jual ijazah??


Read More...

Selasa, 19 Oktober 2010

Temen gue part 1

Friend     :  Ci...liat deh. Pake ini biar ngga bau. 
                 *sambil nunjukin masker warna putih yang dia coba pake nutupin mulutnya*


Gue        :  *Sambil tetep liat monitor dan bernada datar* O...beha ya?? Ih, modelnya nenek2 banget...


Bos Gue :   ......... *sambil dengerin tamunya ngomong di ruangannya tapi matanya ngelirik gue dengan muka ungu menahan ketawa.



Gue       :  ..............*dalem ati: What's so funny? masker yang kaya beha ato muka yang ketutupan barang kaya beha...??*
Read More...

Kamis, 14 Oktober 2010

Art of Giving


Perbincangan tentang kambing dan sapi dengan salah seorang teman pagi ini mengusik saya.

Yah...kambing dan sapi dalam konteks untuk berkurban.

Maaf, saya bukan bermaksud untuk mendiskreditkan tradisi dari suatu golongan tertentu.  Ini hanya bagian dari perspektif saya yang percaya bahwa suatu perbuatan baik cukup hanya dilandasi suatu niat baik untuk membantu sesama dalam rangka untuk menjadikan hidup saya lebih bermanfaat bagi manusia yang lain.  Untuk itulah perbuatan baik sebagai amal atau minta dihitung sebagai amal atau pun mengharapkan pahala, saya buang jauh-jauh dari kamus saya. 

Menurut teman saya yang baik tersebut, apabila kita berkurban, harus satu kambing untuk satu orang, tidak boleh patungan, atau seperti orang jawa bilang urunan. Karena kambing itu kelak akan digunakan sebagai kendaraan kita di surga.

Satu hal yang terlintas di benak saya saat itu, betapa kasihannya orang-orang miskin.  Di dunia, mereka sengsara, makan seadanya, maksudnya kalo ada ya makan kalo ngga ada ya ditahan. Ingin kemana-mana pun harus nabung untuk naik bus, kalau tidak ada uang ya jalan kaki...dan, kalau pun benar kurban adalah dalam rangka mempersiapkan kendaraan di surga, berhubung mereka tidak mampu berkurban berarti setelah mereka sampai di surga pun tetap harus jalan kaki.  Apa tradisi tidak bisa diubah? Paling tidak, satu kambing untuk dipakai bergantian, dibelinya dengan cara patungan.  Tapi ini cuma usul saya loh, diterima bagus, tidak diterima ya ngga ada pengaruh apa-apa buat saya.

Intinya, untuk orang-orang tercinta di sekitar saya, pelan-pelan ingin saya ubah pandangan mereka yang selalu mendalami ayat di Amsal yang berbunyi "Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu,maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya" supaya menjadi seperti lagu anak-anak "hanya memberi tak harap kembali".  Untuk saya setiap nafas kehidupan adalah rahmat.  Dan tidak perlu beli kambing atau menyumbang perpuluhan untuk mendapatkan rahmat tersebut.  Hanya, menjadilah berguna bagi manusia di sekitar kita dengan cara membagi kelebihan kita bagi yang membutuhkan. Stop. Tanpa mengharapkan akan dikembalikan kepada kita dalam bentuk apapun.  Karena sekali lagi, hidup adalah rahmat yang sudah diberikan terlebih dahulu.

 
Read More...

Rabu, 13 Oktober 2010

thank you




TERIMA KASIH SEMESTA ATAS PERJALANAN INI

Read More...

Minggu, 10 Oktober 2010

Life....


Tidak ada yang bisa menduga hidup akan seperti apa nantinya.  Baru saja saya katakan betapa bahagiannya saya dengan hidup saya hari itu, Suami, anak, seseorang yang bukan suami tapi selalu mendengarkan saya, sahabat, teman-teman, pekerjaan dan segalanya.  Tiba-tiba Suami saya harus meninggalkan saya dan putri kecil kami untuk bertugas. 

Hari dimana dia menyampaikan kabar itu, saya menangis hampir 12 jam, sampai sesak nafas saya.  Satu hari sebelum dia pergi, 10 jam saya menangis di pelukan dia sambil memeluk sang putri.  Di hari dia harus pergi, saya kuatkan diri untuk tidak menangis, tetapi akhirnya runtuhlah air mata itu saat saya lihat pesawatnya mulai meluncur perlahan.  Satu hari setelah dia pergi, saya tidur dengan pakaiannya, sambil memeluk sang putri yang terus memanggil ayahnya.

Hari ini, saya merindukan dia. Tetapi saya nikmati detik demi detik kerinduan saya.  Kerinduan yang sama seperti delapan tahun lalu, saat saya melepas dia di suatu tempat, tanpa ada kepastian kapan saya dapat bertemu dan kembali bersama-sama.   

Bagaimanapun...hidup masih sama indahnya bila terlewati bersama dengan orang-orang terhebat di sekitarnya..


Read More...

Jumat, 08 Oktober 2010

Firasat ....




Firasat - Marcell


kemarin kulihat awan membentuk wajahmu

desah angin meniupkan namamu

tubuhku terpaku

semalam bulan sabit melengkungkan senyummu

tabur bintang serupa kilau auramu

aku pun sadari, ku segera berlari


reff: cepat pulang

   cepat kembali, jangan pergi lagi

   firasatku ingin kau tuk cepat pulang

   cepat kembali, jangan pergi lagi


alirnya bagai sungai yang mendamba samudera

ku tahu pasti kemanakan ku bermuara

semoga ada waktu, sayangku


ku percaya alam pun berbahasa

ada makna di balik semua pertanda

firasat ini rasa rindukah atau kah hanya bayang

aku tak peduli, ku terus berlari


repeat reff


  dan lihatlah sayang

  hujan terus membasahi

  seolah turun air mata


repeat reff



Lirik lagu Marcell – Firasat ini dipersembahkan oleh LirikLaguIndonesia.Net. Kunjungi DownloadLaguIndonesia.Net untuk download MP3 terbaru.

Read More...

Menanti...


Rasanya seperti kehilangan separuh jiwa saya.  Manusia yang selalu memeluk saya setiap malam, mendengarkan cerita saya, menertawakan lelucon garing saya dan mencium saya setiap malam. Saya kehilangan dia. Komunikasi yang sangat sulit membuatnya keadaan semakin sulit saya terima.

"Kamu harus banyak belajar.." kata sahabat saya, "Kamu masih beruntung, kekasihmu hanya meninggalkanmu hanya untuk beberapa waktu.  Apa kamu kuat  menjadi seperti saya yang ditinggalkan selamanya?"

Saya diam.

Pikiran hanya hinggap pada sebuah nama.  Seorang kawan yang ditinggalkan suami tercintanya untuk selamanya, disaat yang amat tidak disangka, dengan anak-anak yang masih terlalu kecil untuk mengerti.

Yah..saya masih beruntung.  Kekasih saya pergi, tapi dia pergi hanya sementara dan dengan tetap membawa cinta kami...bukan cinta yang lain.


Read More...

Selasa, 28 September 2010

KAMU.....

Saya rindu....

Mohon katakan kepadaNya,
apabila Dia berkenan,
sampaikan bahwa saya siap....

Mohon hampiri saya sekarang,
supaya saya dapat kembali bersamamu,
bercerita tentang anjing-anjing kita
tentang bangunan-bangunan aneh kita
dan bintang-bintang kita....
Read More...

Selasa, 21 September 2010

bagiMu bagiKu



Postingan status salah satu teman di dinding facebook-nya cukup mengusik saya hari ini.

Tulisannya tentang surga dan agama membuat saya tergerak untuk mencari tahu berita hari ini yang membuat dia berani menuliskan sesuatu yang cukup sensitif di sebuah ruang publik (bagi saya, Facebook adalah sebuah ruang publik, dimana banyak orang dapat melihatnya dan berkomentar apapun yang mereka mau).

Saya tidak pernah mengerti, pembahasan terus menerus mengenai perbedaan agama di negara ini.  Bukankah perbedaan adalah suatu kekayaan yang seharusnya diterima dengan suka cita oleh semua pihak sebagai bagian dari keragaman?  Lalu kenapa orang lain yang memeluk agama berbeda selalu dipandang sebagai mahluk yang aneh? Kafir? Atheis? 

Saya sendiri beragama hanyalah bagian dari sebuah budaya dan tradisi.  Saya menganut agama warisan, dimana agama tersebut telah direncanakan untuk diberikan dan diberikan sesaat setelah saya lahir tanpa saya mendapatkan kesempatan untuk mengajukan keberatan.  Sampai sekarang saya masih memeluk agama tersebut, bukan karena saya pemeluk agama yang taat, tetapi lebih karena agama yang saya peluk lebih sederhana, tidak menggunakan ancaman dan iming-iming ini itu supaya saya taat.  Saya diberi kesempatan untuk menyembah tuhan karena memang saya ingin, dan karena saya mau, karena saya cinta dan bukan karena takut atau menginginkan segala bentuk pahala.

Setelah saya dewasa, saya merasa tidak penting lagi apakah sosok tuhan itu ada atau tidak.  Hidup bagi saya adalah melakukan yang baik, dan bermanfaat bagi orang lain.  Sebisa mungkin saya hindari untuk merugikan orang lain.  Agama hanya sebuah identitas.  Intinya adalah bagaimana saya dapat menjalani hidup saya dengan baik, dengan argo yang diberikan untuk mengembara di dunia ini.

Kadang saya merindukan sosok Tuhan.  Pernah saya menangis berjam-jam untuk melegakan perasaan.  Saat itu saya berharap, Tuhan dapat hadir dan menyapa saya, memberikan kekuatan kepada saya atau paling tidak berbisik kepada saya dengan suara yang paling halus, seperti yang diceritakan dari kesaksian-kesaksian yang sering saya tonton di TV. Tapi ternyata semua diam.  Saya sungguh berharap sosok itu sungguh ada, tapi tidak sebentuk reaksi pun mampir di doa saya. 

Huff....terus terang saya belulm berani menyatakan kepada semua orang bahwa saya memilih sebagai seorang agnostic.  Saya masih beribadah, hanya demi menjaga perasaan kedua orang tua saya.  Saya tidak mau membuat mereka sedih karena mereka menganggap diri mereka gagal menanamkan pendidikan agama pada diri saya.  

Memang benar tulisan teman saya itu.  Jalan ke surga, atau ada tidaknya surga baru bisa diketahui nanti, saat ajal menjemput.  Bukan hari ini, bukan kemaren, bukan besok.  Yang terbaik adalah lakukan yang terbaik untuk hari ini, bagi mereka yang kita kenal.  Kalaupun surga memang ada, mudahan saya ikut dapat nomor untuk ikut antri dalam kerajaan surga tersebut, atau kalau tidak ada, paling tidak saya sudah membuat hidup saya bernilai bagi orang lain, dan tidak membuang argo umur saya dengan sia-sia untuk melakukan sesuatu yang merugikan orang lain.
Read More...

Kamis, 16 September 2010

The Start




Finally...My Own Blog!!!!!

Setelah menimbang ini itu, dan membaca sana sini, jadi ngiler punya blog sendiri.....
Mudah-mudahan berguna, paling tidak untuk diri sendiri, jadi sarana pengembangan diri, dan pelepasan kejenuhan sejenak....
Read More...