Sabtu lalu adalah pernikahan kesekian yang tidak saya hadiri. Malas rasanya. Dua pernikahan sebelumnya, yaitu pernikahan kakak-kakaknya, anak dari tante saya yang merupakan adik mama saya, pun tidak saya hadiri. Saya lebih suka menghadiri pernikahan teman-teman saya yang tidak terlalu saya kenal, ketimbang nimbrung dan haha hihi pada pesta kawin saudara saya sendiri.
Memang salah, saya akui itu. Karena mereka pun dengan suka rela hadir di saat saya melangsungkan pesta nikah saya. Tapi itu kan atas undangan mama saya, begitu saya membela diri. Konsep pernikahan saya adalah menikah di depan altar, hanya kedua orang tua saya, dan kedua orang tua calon suami saya dan adik atau kakak2 kami, bukan semua keluarga....tapi ternyata mama menginginkan lain. Yah terserah lah....
Saya mulai menarik diri dari pergaulan persaudaraan ini sejak saya menikah, memiliki patner hidup yang mau mengerti isi kepala saya, dan mau menerima cara pandang saya terhadap apapun. Saya merasa tidak sendiri, dan terlindung dari tatapan mama yang selalu mengintimidasi setiap kali saya berusaha melarikan diri dari setiap acara keluarga.
Keluarga saya, tante-tante dan sepupu saya, tidak seperti yang ada di dalam pikiran saya. Hampir sertiap hal yang kami lakukan senantiasa dinilai dengan uang. Setiap percakapan yagn tejadi, tidak jauh dari siapa memiliki apa, dan siapa beli baju merk apa. Setelah bertahun-tahun bergaul dengan mereka, akhirnya setelah saya punya cukup modal untuk berlindung (yaitu suami saya tercinta.. :p), saya beranikan diri untuk menarik diri dan berhenti bergaul di lingkungan tidak membangun semacam itu. Rasanya setiap orang punya hak atas gaya hidupnya masing-masing, seperti saya pun punya hak untuk memilih kemana saya bisa membuang uang-uang saya yang jumlahnya tak terbatas itu. Bukan urusan mereka. Hak saya untuk memilih jalan-jalan dari pada membeli hape canggih, atau menyekolahkan dan memanjakan anak saya ketimbang saya membeli mobil atau kamera canggih.
Tidak semua hal dapat dinilai dengan uang. Niat baik saya tidak perlu dinilai dengan uang, karena itu sungguh menyinggung saya. Tidak perlu menilai bibit bebet bobot saya untuk dijadikan menantu dan memandang sinis dan menilai saya tidak berbobot, hanya karena orang tua saya tidak mau membelikan saya celana levi's untuk saya kenakan, karena nyatanya , kedua orang tua saya mampu menyekolahkan saya di sekolah swasta favorit yang uang sekolahya lima kali lipat uang sekolah sepupu saya. Tidak perlu merendahkan kedua orang tua saya karena mereka tidak memakaikan saya gelang atau kalung emas atau giwang emas di telinga saya. Bukan karena mereka tidak perduli, tapi karena saya benci dijadikan kapstok berjalan, dan terutama saya alergi perhiasan.....dan anting emas hanya bikin telinga saya korengan....
Maaf kalau saya harus menyombongan diri, karena kamu memandang rendah anak saya karena dia hanya mengenakan sandal jepit sepuluh ribuan. Saya hanya sedang mendidik anak saya untuk berhemat, untuk tidak membeli barang-barang yang tidak dia perlukan, agar dia dapat menghargai setiap rupiah yang dikeluarkan kedua orang tuanya untuk biaya hidupnya. Agar anak saya memiliki empati yang tinggi, agar dia mampu mengerti bahwa orang yang mengenakan sendal jepit tidak berarti gelandangan, dan orang yang tidak makan sup di restoran ayam goreng adalah orang yang paling sial sedunia.
Saya ingin Saudara-saudara saya tahu bahwa saya memilih untuk bergaul di lingkungan yang dapat menghebatkan saya. Dan lingkungan yang hanya akan merendahkan saya, lebih baik saya jauhi lebih jauh lagi.....
sadis.. see...
BalasHapusEarth is beautifully lucky to have you !!!